Air mata sungguh berkah. Harus lari ke mana? Tak ada tempat selainMU. Tidaklah Kau datangkan penentram jiwa buatku dalam zatnya yang rupawan agar sekedar tahu kehidupan, melainkan agar aku tak melena dalam kesombongan dan kebodohan. Ia mengajarkan banyak isyarat hikmah yang begitu lama dapat kumengerti. Bukanlah untuk mencari kesempurnaan, melainkan keteguhan dan kedamaian yang hakiki. Ketika ia pergi, apakah nurani tengah berbisik saat itu? Ku rasa YA. Tak tahu apa yang ia cari, tapi darinya kutemukan apa yang aku cari. Pencarian takkan berakhir hingga suatu saat akan sampai pada maqamnya... dengan bisikan nurani yang memantapkan hati pada kematangan jiwa. Ketika ia pergi, tidaklah aku katakan ia pengingkar, melainkan hakikatnya musyafir yang mencari bangunan jiwa yang kokoh. Ia tengah mencari, aku pun demikian.
Ia adalah karunia dariMu. Kini kepadaMu ia kembali..! Aku Ikhlas...
Aku bersyukur karena menyayanginya.
Monday, November 03, 2008
Mengingat-ingat
Allah telah memberiku begitu banyak potensi dalam diri yang terus bertambah dan bertambah, namun aku seakan-akan orang yang begitu miskin dari karunia Allah. Merasa waktu dan tempat tidak cukup memberi apa yang kubutuhkan, berandai-andai bahwa aku telah memiliki karya yang monumental yang seharusnya telah terjabarkan. Merasa waktu begitu lambat mendongkrak kesuksesanku hingga terus merasa tertinggal. Menganggap diri merasa tidak dan tidak secara pesimis, seakan-akan aku orang yang miskin iman dan keyakinan.
Apakah aku tengah mengalami krisis 30 tahun (jika bisa dikatakan begitu) yang dengan tertundanya kesuksesan membuat berang dan penasaran! Rindu dengan kelincahan mental dan kemurnian ekspresi yang benar-benar jauh dari rasa tertuntut oleh realita hidup. Masih merasa tertinggal meski pengejaran terus dilecuti oleh semangat dan kesadaran. Bagaikan terbangun dari khayal setelah merasakan sakitnya dihempas oleh gulungan-gulungan arus realita ke daerah antah-berantah. Mendapati eksistensi diri yang sulit menghadapi buah dari ulah sendiri dan terkungkung oleh kebingungan. Hasrat bertahan dan berjuang sangatlah dalam namun tuntutan itu terlampau besar dan diri yang kepayahan. Apakah yang tengah terjadi pada diriku?
Aku yakin ada daya yang maha besar bercokol dalam tiap diri seseorang yang belum lagi tergali, ada kerja otak yang belum tereksploitasi pada tiap-tiap kepala manusia, ada energi positif yang dahsyat yang masih mengendap dibalik potensi yang tidak terasah baik. Karena kutahu Allah telah mencipta manusia menjadi makhluk yang paling sempurna. Dengannya kuyakin dan tak akan menyerah.
Wednesday, October 29, 2008
Biarlah
Tubuh seperti keram. Namun enggan berhanjak juga. Hari masih terang...pun malam terasa menepuk sadar senantiasa. Berkata pada ruang terjaga... jangan lengah saat ini. Teruslah lihat, teruslah bergerak karena waktu tak akan berulang.
Ohh, jalan terasa masih demikian panjang. Tapi siang yang terang dan malam yang sadar terus memberi kejutan. Ya ALLAh Yang Memegang kuat Jiwa. Berilah senantiasa harapan, sisipkanlah senantiasa pijar-pijar semangat, tuntunlah mata yang rabun dan buta.
Aku yang keras pada diri, biarlah kelak ku sambut benih yang berbuah, karena buah kesabaran akan manis rasanya.
Tuesday, October 07, 2008
Menjadi Dirimu
Saat orang lain mengatakan dirimu begini kamu akan menganggap dirimu begini. Ketika lain orang mengatakan dirimu begitu kamu akan berubah persepsi bahwa dirimu begitu. Lalu adakah ketika kamu mengatakan dirimu siapa dan kamu akan terpuruk?
Sesungguhnya yang paling mengenalmu adalah dirimu sendiri. Lalu kamu tidak perlu kikuk apa kata orang. Orang berbicara hanya dengan bercermin pada diri mereka sendiri, meraba kulit, tidak benar-benar tahu. Hanya berharap dirimu sama dengan prasangka mereka. Dengan begitu mereka merasa bisa memahami dirimu. Yang perlu dipahami adalah kamu memahami siapa dirimu sendiri dan apa yang kamu mau. Tidak berarti bahwa kamu tidak membutuhkan siapa-siapa. Tanpa mereka kamu merasa tidak berarti. Hidup sendiri, menikmati kesenangan dan duka sendiri, mengambil keputusan sendiri, kesendirian itu justru membuatmu bingung dan hampa. Lalu apa gunanya hidup jika tidak berguna bagi orang lain.
Jujur saja bahwa kamu ingin merasa berguna, meski orang itu mengatakan kamu begini dan begitu. Kamu akan berusaha memahami mereka sebagaimana mereka berusaha memahami dirimu. Tak perlu sungkan menghadapi dirimu dan dinamika hidup. Tak perlu lari bersembunyi ke balik tabir acuh dan malu. Terima takdir dengan "nerimo", supaya otakmu waras dan selaras.