Penghargaan Kepada Nilai Besar
Saat santai berdua dengannya, tanpa menatap di sela riuh benak kami, polos kubertanya, "Dulu, koq ayah ingin aku menjadi Ballerina?" ....
"Dari segala faktor yang kamu punya -fisik, jiwa-kamu ini cantik loh, Nak!!" selorohnya. "Dan ayah yakin kamu pasti bisa sukses!" tambahnya pungkas.
Jujur, kalimat ayah membuatku tersenyum tanpa berkutik. Membuatku menggulirkan sejarah dalam benak, menemui gambaran masa-masa lalu; tari, lirik, kuas dan kanvas. Ah.. Ayah, hingga kecantikan itu pun kau begitu cermat..
Aku bukanlah seorang Ballerina, berpikir menjadinya pun tak pernah. Tubuhku memang pernah melompat-melangkah-berputar kecil bersama bayangan semu, tapi hanya itu dan hanya di saat itu tanpa benar-benar ingin. Dan nasib memang tak mengalir ke sana, pertanyaan "MENGAPA?" pun tak pernah menghardik benak. Perjalanan hidup membawaku menjadi seorang pengajar di sebuah Perguruan Tinggi Swasta yang sarat teori dan terapan bahari. Bukan Ballerina. Namun, bukanlah 'akhir indah' yang penting. Hal yang jauh lebih penting adalah ayah mengenali kami, percaya dan menerima tentang siapa diri kami. Aku yang dulu, kini tampak berbeda. Tapi ia tahu, jiwa kami tak pernah berubah... hingga ketika kami lelah lusuh, ia dapat melihat kemana jiwa kami kembali, dan mengerti. Dengannya keseimbangan hidup kami terasa sempurna. Tidakkah itu berkah yang indah? Tidakkah itu begitu berharga, bernilai? Dan kebanggaan darinya selalu menyisipkan makna berarti, menjadi energi yang tak lekang oleh waktu.
Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts
Thursday, May 05, 2011
Monday, November 03, 2008
Sudah saatnya
Batu sandungan itu telah membenturku sejak awal. Hal yang telah kusadari dan pahami. Aku yang bebal dan tidak ingin menyerah hanya memandang batu itu sebagai tempaan yang akan mematangkan langkahku ke depan. 'Sukses adalah ketika ada hambatan maka kita mampu bangkit kembali', begitu pikirku. Karenanya sejak awal.. aku tidak mengindahkan adanya sandungan itu dan terus berjalan dan mencari cara yang lebih baik.
Namun kesabaran ada batasnya. Ketika rintangan dan cobaan terus datang dengan wujud yang lebih besar dan semakin besar, aku sempat terhenyak dan bersedih. Bukan karena putus asa, namun terasa sakit dan lelah. Walau semangat berjuang tidak pernah luntur, kekuatan tubuh ini ada batasnya, begitu pula dengan kesabaran. Aku butuh jeda untuk berpikir dan mengumpulkan kekuatan kembali. Otak berpikir keras. Mata terbelalak dan awas. Telinga menjadi lebar dan tajam. Hati pun penuh zikir dan harap. Rasanya seluruh indera bahu membahu mendukungku. Hingga pada suatu saat pertolongan Allah datang. Saat itulah aku mengerti tentang harapan. Jangan pernah menyerah pada nasib. Selagi tubuh dan pikiran masih sehat, manfaatkan potensi itu untuk berusaha.
Kini aku kembali dihadapkan oleh takdir yang kian rumit. Setelah Allah melapangkan jalan, takdir lain memberi ujian. Apakah benar itu ujian? Aku yang lemah dan daif ini hanya dapat menghibur diri dengan anggapan serupa. Ujian yang begitu besar dan teramat besar yang entah maknanya seperti apa. Ataukah sandungan itu peringatan? Aku hanya dapat mengelus dada, meneteskan air mata, dan terpekur di atas sajadah. Serasa jalan telah buntu dan tak ada lagi kesempatan untuk maju mewujudkan impian. Ingin teriak dan marah, namun kusadar dan seketika malu lalu berpikir. Rejeki itu hanya pinjaman. Kita hanya manusia, tidak tahu kapan datang dan perginya. Saat terbentur, Allah membiarkanku meminta, dan Ia memberi. Saat ini Allah mengambilnya kembali pun agar aku benar-benar paham bahwa dunia ini fana. Untuk memberiku pemahaman tentang mujahid yang tulus dan ikhlas.
Sudah saatnya. Sudah saatnya aku mengais permata hikmah. Sudah saatnya aku berdiri tegar dan ikhlas. Sudah saatnya aku mengumpulkan makna-makna berserak yang terjalin sepanjang jalan perjuanganku. Karena dari bulir-bulir ikhtiar mengandung sejumlah kesuksesan. Menganyamnya menjadi wadah yang kokoh untuk mendulang butir-butir kesuksesan selanjutnya. Karena pengalaman tidaklah pernah sia-sia. Aku akan kembali bergerak dan berjuang. Hanya mencari rahmat dan rildo-Nya. Biarlah impian itu berlalu. Aku akan menyongsong masa yang panjang terbentang di hadapan. Karena aku yakin Allah telah mempersiapkan sesuatu yang terbaik dan membahagiakanku. Ialah Maha Mengabulkan doa, dan Ia Maha Menepati janji.
Wallahu 'alam bissawab.
Batu sandungan itu telah membenturku sejak awal. Hal yang telah kusadari dan pahami. Aku yang bebal dan tidak ingin menyerah hanya memandang batu itu sebagai tempaan yang akan mematangkan langkahku ke depan. 'Sukses adalah ketika ada hambatan maka kita mampu bangkit kembali', begitu pikirku. Karenanya sejak awal.. aku tidak mengindahkan adanya sandungan itu dan terus berjalan dan mencari cara yang lebih baik.
Namun kesabaran ada batasnya. Ketika rintangan dan cobaan terus datang dengan wujud yang lebih besar dan semakin besar, aku sempat terhenyak dan bersedih. Bukan karena putus asa, namun terasa sakit dan lelah. Walau semangat berjuang tidak pernah luntur, kekuatan tubuh ini ada batasnya, begitu pula dengan kesabaran. Aku butuh jeda untuk berpikir dan mengumpulkan kekuatan kembali. Otak berpikir keras. Mata terbelalak dan awas. Telinga menjadi lebar dan tajam. Hati pun penuh zikir dan harap. Rasanya seluruh indera bahu membahu mendukungku. Hingga pada suatu saat pertolongan Allah datang. Saat itulah aku mengerti tentang harapan. Jangan pernah menyerah pada nasib. Selagi tubuh dan pikiran masih sehat, manfaatkan potensi itu untuk berusaha.
Kini aku kembali dihadapkan oleh takdir yang kian rumit. Setelah Allah melapangkan jalan, takdir lain memberi ujian. Apakah benar itu ujian? Aku yang lemah dan daif ini hanya dapat menghibur diri dengan anggapan serupa. Ujian yang begitu besar dan teramat besar yang entah maknanya seperti apa. Ataukah sandungan itu peringatan? Aku hanya dapat mengelus dada, meneteskan air mata, dan terpekur di atas sajadah. Serasa jalan telah buntu dan tak ada lagi kesempatan untuk maju mewujudkan impian. Ingin teriak dan marah, namun kusadar dan seketika malu lalu berpikir. Rejeki itu hanya pinjaman. Kita hanya manusia, tidak tahu kapan datang dan perginya. Saat terbentur, Allah membiarkanku meminta, dan Ia memberi. Saat ini Allah mengambilnya kembali pun agar aku benar-benar paham bahwa dunia ini fana. Untuk memberiku pemahaman tentang mujahid yang tulus dan ikhlas.
Sudah saatnya. Sudah saatnya aku mengais permata hikmah. Sudah saatnya aku berdiri tegar dan ikhlas. Sudah saatnya aku mengumpulkan makna-makna berserak yang terjalin sepanjang jalan perjuanganku. Karena dari bulir-bulir ikhtiar mengandung sejumlah kesuksesan. Menganyamnya menjadi wadah yang kokoh untuk mendulang butir-butir kesuksesan selanjutnya. Karena pengalaman tidaklah pernah sia-sia. Aku akan kembali bergerak dan berjuang. Hanya mencari rahmat dan rildo-Nya. Biarlah impian itu berlalu. Aku akan menyongsong masa yang panjang terbentang di hadapan. Karena aku yakin Allah telah mempersiapkan sesuatu yang terbaik dan membahagiakanku. Ialah Maha Mengabulkan doa, dan Ia Maha Menepati janji.
Wallahu 'alam bissawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)